Minggu, 30 Desember 2007

News

Sejarah Berdarah Klan Bhutto

KARACHI - Makam kubah putih tempat jenazah Benazir Bhutto disemayamkan di samping ayahnya, Zulfiqar Ali Bhutto, menjadi saksi bisu sejarah berdarah keluarga politikus itu. Kematian Benazir Bhutto itu menambah panjang daftar korban tewas keluarga itu.Zulfiqar Ali, Perdana Menteri (PM) Pakistan yang dikudeta militer itu tewas setelah dieksekusi gantung. Sedangkan dua saudara laki-laki Bhutto, juga tewas karena kekerasan dan disemayamkan di makam yang dibangun di tengah lahan persawahan padi di pedesaan Pakistan selatan itu.Semasa hidup, Bhutto pernah berdiri di makam keluarganya tersebut dan menulis, "Pada saat ini saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan meninggal hingga demokrasi kembali ke Pakistan."Kini janji itu terbayar saat Bhutto tewas oleh serangan senjata dan bom bunuh diri pada Kamis kemarin setelah berpidato di hadapan pendukungnya. Bhutto meninggal di usianya yang ke 54 tahun.Mantan PM Pakistan dua periode itu memasuki dunia politik di usia belasan tahun setelah ayahnya digantung oleh diktator militer Jenderal Zia-ul Haq. Zulfiqar Ali merupakan peletak pondasi Pakistan dengan menjadi presiden dan kemudian PM. Dia dikudeta pada 1977 oleh Zia yang menyeret Zulfiqar Ali ke tiang gantungan.Bhutto dan ibunya saat itu ditahan oleh Zia dan baru dibebaskan setelah jenazah Zulfiqar Ali dikuburkan. "Mereka menangis dan bersimpuh di makamnya. Mereka bertanya pada ayah saya bagaimana kondisi jenazah Zulfiqar Ali saat dimandikan dan dia menceritakannya," ungkap Abdul Ghafoor Leghari yang ikut memandikan jasad Zulfiqar Ali bersama ayahnya dan sejumlah orang. Saat itu Leghari berusia 18 tahun.Zia mendorong militansi kelompok garis keras di Pakistan dan menyingkirkan keluarga Zulfiqar Ali Bhutto dan Partai Rakyat Pakistan (PPP). Kediktatoran Zia berakhir saat dia tewas pada 1988 dalam sebuah kecelakaan pesawat.Kematian Zia membuat Benazir Bhutto dapat mengumpulkan kembali dukungan massa yang telah tercerai berai. Keterlibatan Bhutto di pentas politik tak pernah lepas dari ancaman, teror, dan nyawa beberapa anggota keluarganya yang harus hilang.Saudara kandung Bhutto, Shah Nawaz, tewas akibat diracun di apartemennya di Prancis selatan pada 1985. Kakak Bhutto, Murtaza, yang dituduh terlibat terorisme juga ditembak di Karachi 11 tahun kemudian.Bhutto mengecam badan intelijen Pakistan sebagai penyebab kematian saudara-saudaranya. Berbagai tuduhan pun dilontarkan lawan-lawan politik Bhutto, seperti tuduhan korupsi yang dilakukan Bhutto saat menjabat sebagai PM pada 1988.Pada 1990 Bhutto dipecat karena tuduhan korupsi namun menjadi PM lagi antara 1993-1996. Meski mendapat tuduhan korupsi, Bhutto tetap mendapatkan dukungan sangat besar, terutama dari jutaan penduduk kota dan desa yang miskin.Keluarganya telah menjadi pusat kebencian kalangan miltier karena Zulfiqar Ali merupakan penganjur pemerintahan sipil. Keluarga Bhutto dianggap sebagai ancaman rezim militer yang telah berkuasa lebih dari setengah abad sejak 1947.Bhutto yang diasingkan selama delapan tahun, kembali ke Pakistan untuk ikut terlibat dalam pemilu 8 Januari 2008. Namun tragedi berdarah kembali terjadi, 139 orang pendukung Bhutto tewas akibat serangan bom bunuh diri saat penyambutan kepulangannya.Puncak tragedi berdarah keluarga politikus itu terjadi pada Kamis kemarin saat Bhutto diterjang peluru di leher dan dadanya diikuti serangan bom bunuh diri. Lengkap sudah kisah berdarah keluarga tersebut. (Syarifudin / Sindo / jri)

Read More......

Selasa, 25 Desember 2007

See Now!

21/12/2007 18:16 WIB
Kapolri Pastikan Perusak Ahmadiyah Ditindak Tegas
Gagah Wijoseno - detikcom

Jakarta - Jemaah Ahmadiyah mendapatkan perlakuan anarkis darisekelompok massa. Selaku penegak hukum, Polri pun memberikan jaminanperlindungan keamanan kepada setiap warga dengan menindak tegas pelaku penyerangan dan pengrusakan."Pasti, siapapun yang melanggar hukum akan ditindak. Seperti di Bantenditindak, juga ada yang ditangkap pelakunya di Kuningan jugademikian," kata Kapolri Jenderal Pol Sutanto di Jl Sriwijaya, Jakarta, Jumat (21/12/2007) .Lebih rinci Sutanto menuturkan, untuk pelaku yang di Kuningan, JawaBarat, pihaknya sudah mengidentifikasi pelakunya. Namun hal itu masihdalam penyelidikan."Ini akan ada tindakan hukum di mana pun kasus yang ada di wilayah kita ditangani secara hukum, baik di masa lalu maupun sekarang," imbuhnya.Lebih lanjut dia meminta, dalam kasus seperti ini polisi harusberperan tidak hanya sebagai pemadam kebakaran saja. Namun, pelaku anarkis juga harus diberikan penyadaran dan pencerahan agar kasusseperti ini tidak terulang."Tolong jangan polisi terus yang menanganinya, tapi dari hulu. Tolongdisarankan semua, supaya terbantu. Seolah-olah ini tugas polisi semua, tapi tidak seperti itu kan?" urai Sutanto.Kalau semua berperan akan tercipta harmoni yang baik. "Janganpendekatan keamanan terus," tambahnya.Lalu bagaimana dengan permintaan Wapres Jusuf Kalla agar segel yang diberikan kepada tempat peribadatan Ahmadiyah dibuka? "Coba cek kePolda setempat," tandasnya. ( ndr / ana )

Read More......

Senin, 24 Desember 2007

Hot Topics

Gus Dur: MUI Kebablasan!
Sabtu, 22 Desember 2007, 12:23:14 WIB


Laporan: Dian P. Putra

Jakarta, myRMnews. Majelis Ulama Indonesia (MUI) lagi-lagi dikecam.
Lembaga representasi umat muslim itu dinilai kebablasan dalam mengeluarkan
fatwa yang berkaitan dengan penstempelan aliran sesat terhadap
kelompok-kelompok masyarakat.

Menurut tokoh bangsa, KH Abdurrahman Wahid, otoritas penyelesaian kasus
maraknya kelompok-kelompok umat beragama yang dinilai sebagai aliran sesat
tersebut lebih baik ditangani oleh lembaga Pengawasan Aliran Kepercayaan
Masyarakat (Pakem), bukan MUI.

"Pakem yang berhak menentukan benar atau tidak ajaran mereka. Ada Jaksa
Agung, Mendagri, Polri. Biar mereka yang menangani. MUI itu sudah
kelewatan," kecam Gus Dur, panggilan Ketua Dewan Syuro PKB saat ditemui
dikediamannya, Jumat kemarin (21/12).

Menanggapi kasus penyerangan terhadap rumah ibadah jemaah Ahmadiyah di
Kuningan dan Tasikmalaya, Gus Dur meminta Polri harus menyeret orang-orang
yang bertindak anarkis itu ke meja hijau.

“Fatwa MUI itulah yang memicu anarkisme orang-orang terhadap pengikut
Ahmadiyah. MUI juga punya andil (tindak anarkisme),” papar bekas Presiden
RI ke-4 ini geram.

Oleh karena itu, Gus Dur minta dengan tegas, agar kalimat “sesat” tidak
digunakan untuk menjustifikasi sebuah aliran atau kepercayaan umat
beragama. “Jangan pakai ‘sesat’, itu salah. Kalau orang Syiah menganggap
orang Indonesia adalah sesat, bagaimana?".

Dalam Islam diakuinya terdapat banyak aliran. Dicontohkan Gus Dur, di Arab
Saudi ada aliran Wahabisme yang mendukung ajaran Dinasti Saudi. Malah,
pemimpinnya dulu, Muhammad bin Abdul Wahhab tak kalah populer dengan Nabi
Muhammad SAW.

"Pengikut Al-Wahabiyah banyak sekali di sana (Arab Saudi). Dan tidak
apa-apa oleh pemerintah Arab Saudi. Undang-undang kita pun menjamin
kebebasan berpikir dan berpendapat, jadi boleh-boleh saja mereka,"
pungkasnya. iga

http://www.myrmnews .com/indexframe. php?url=situsber ita/index. php?pilih= lihat_edisi_ website&id= 49058

Read More......

Jumat, 21 Desember 2007

Hot News

Pernyataan Wapres: (Tak Ada Fatwa untuk Merusak dan Membakar, Pemerintah Harus Cegah Kekerasan )
Kekerasan terhadap kelompok keagamaan yang marak akhir-akhir ini menuntut perhatian serius dari pemerintah. Jikalau tidak dicegah, dikhawatirkan kekerasan itu akan menyebar dan menjadi kekerasan sosial. Pemerintah harus segera mencegahnya. Demikian ditegaskan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (Aliansi) serta Setara Institute secara terpisah di Jakarta, Rabu dan Kamis (19-20/12). Pernyataan sikap kedua lembaga itu disampaikan, antara lain, terkait dengan kekerasan dan penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah, Selasa, di Manislor, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Massa menyerang dan merusak rumah dan masjid milik jemaah Ahmadiyah. "Kami menduga kekerasan ini akan terus meluas apabila tidak ada pencegahan dari pemerintah, khususnya dari penegak hukum. Kekerasan harus diusut dan pelakunya harus bisa bertanggung jawab secara yuridis," ujar Usman Hamid, aktivis Aliansi. Peristiwa itu bukan yang pertama terjadi. Kekerasan semacam itu bisa terulang di daerah lain selama pemerintah dan aparat membiarkannya. Usman menegaskan, kekerasan yang menimpa jemaah Ahmadiyah mengarah ke persekusi, yakni kekerasan pada kelompok warga sipil yang dipandang berbeda secara agama atau keyakinan politik. "Ini dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat," katanya. Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi mendesak pemerintah bertindak cepat dan solutif untuk menyelesaikan kekerasan terhadap kelompok agama tertentu, termasuk jemaah Ahmadiyah. Penyelesaian itu diharapkan juga hanya berdasarkan hukum dan tak patuh pada penghakiman massa. "Kekerasan itu merupakan pelanggaran atas Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Kovenan Internasional Sipil dan Politik, serta Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa 1981 tentang Penghapusan Segala Bentuk Intoleransi dan Diskriminasi Berdasarkan Agama atau Keyakinan," kata Hendardi. Rafendi Djamin dari Human Rights Working Group menambahkan, kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah ini pernah ditanyakan Sidang Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial dalam sidangnya di Geneva, Swiss, pada 31 Juli-18 Agustus lalu. Saat itu Pemerintah Indonesia diminta melindungi pengikut Ahmadiyah karena penyerangan terhadap mereka merupakan pelanggaran HAM. Rohaniwan jemaah Ahmadiyah Zafrullah A Pontoh berharap bisa berdialog dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). "Sejak fatwa MUI keluar, kami meminta agar pemerintah memfasilitasi dialog. Sampai kini permintaan itu belum terpenuhi," katanya. Tak bisa melarang Di Kantor Partai Golkar, Jakarta, Kamis, Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengaku telah berbicara dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait kekerasan yang dilakukan sekelompok warga terhadap penganut Ahmadiyah. Wapres minta polisi bertindak tegas karena tidak ada fatwa MUI untuk merusak atau membakar. Fatwa MUI menyatakan Ahmadiyah adalah sesat. "Saya bicara dengan Presiden agar polisi bertindak tegas kepada siapa saja yang menghalangi orang lain menjalankan keyakinannya, termasuk yang merusak rumah dan tempat ibadah Ahmadiyah. Segel harus dibuka dan mereka jangan diganggu lagi," ujar Wapres. Wapres menegaskan, negara menjamin warga negara menjalankan agama dan keyakinannya. Meski ada fatwa MUI, itu bukan berarti dibenarkan untuk menghantam orang lain. "Orang salah tidak harus dipukuli. Jika dipukuli, yang salah yang memukuli," kata Kalla lagi. Jaksa Agung Hendarman Supandji menambahkan, kejaksaan belum bisa melarang suatu ajaran atau aliran selama majelis ulama atau tokoh agama belum menyatakan ajaran atau aliran itu bertentangan dengan kaidah agama. Hal itu pun berlaku pada Ahmadiyah. (IDR/INU/A09/NWO) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/21/utama/4093860.htm

Read More......

Jumat, 07 Desember 2007

Anak Terlahir Dalam Keadaan Fitrah

Imam Al Ghazali mengatakan, “Anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan mutiara yang masih polos tanpa ukiran dan gambar. Ia siap diukir dan cenderung kepada apa saja yang mempengaruhinya. Jika ia dibiasakan dan diajarkan untuk berbuat kebaikan, ia kan tumbuh menjadi anak yang baik. Dengan begitu, kedua orang tuanya akan berbahagia di dunia dan akhirat. Demikian juga guru dan pendidiknya. Sedangkan apabila ia dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan sengsara dan binasa. Dosanya pun akan dipikul oleh orang yang bertanggung jawab untuk mengurus dan walinya. Rasulullah s.a.w bersabda: “Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fitrah wa innamaa abawaahu yuhawwidaanihi au yumajjisaanihi au yunashshiraanihi”
Artinya : Setiap anak sebenarnya dilahirkan diatas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Majusi, atau Nasrani.
Berdasarkan ini, Abul ‘ala mengatakan melalui syairnya: Anak-anak kita akan tumbuh menurut apa yang dibiasakan oleh orang tuanya. Anak tidaklah menjadi tercela oleh akalnya namun orang-orang dekatnya yang membuatnya hina.
Jika rumah mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan anak, maka untuk mewujudkan tujuan diatas rumah harus diliputi oleh segala hal yang bisa menanamkan ruh keagamaan dan keutamaan terhadap jiwa anak”Risalah Anjaa’ (wasail).

Read More......

Doa untuk Keturunan dan Keluarga

“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua sebagai orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan jadikanlah diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu” (Al Baqarah :127)

“Ya Rabbi, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (Ali Imran :38)

“Ingatlah ketika Ibrahim berkata: Ya Rabbi, jadikanlah negri (Mekah) ini sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala” (Ibrahim :35)

“Ya Rabbi, jadikanlah aku dan anak cucuku sebagai orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Rabb kami, terimalah doaku. Ya Rabb kami, berilah aku ampunan, dan juga kedua orang tuaku serta orang-orang beriman di hari terjadinya perhitungan (hisab)” (Ibrahim :40-41)

“Ya Rabb kami, anugerahkan kepada istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”
(Al Furqan :74)

“Ya Rabbi, berilah aku petunjuk untuk tetap mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan juga untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai. Masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih” (An Naml :19)

“Ya Rabbi, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku supaya aku dapat melakukan mal shaleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberikan kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al Ahqaf :15)

Read More......

Humanity First-Serving Mankind