Gus Dur: MUI Kebablasan!
Sabtu, 22 Desember 2007, 12:23:14 WIB
Laporan: Dian P. Putra
Jakarta, myRMnews. Majelis Ulama Indonesia (MUI) lagi-lagi dikecam.
Lembaga representasi umat muslim itu dinilai kebablasan dalam mengeluarkan
fatwa yang berkaitan dengan penstempelan aliran sesat terhadap
kelompok-kelompok masyarakat.
Menurut tokoh bangsa, KH Abdurrahman Wahid, otoritas penyelesaian kasus
maraknya kelompok-kelompok umat beragama yang dinilai sebagai aliran sesat
tersebut lebih baik ditangani oleh lembaga Pengawasan Aliran Kepercayaan
Masyarakat (Pakem), bukan MUI.
"Pakem yang berhak menentukan benar atau tidak ajaran mereka. Ada Jaksa
Agung, Mendagri, Polri. Biar mereka yang menangani. MUI itu sudah
kelewatan," kecam Gus Dur, panggilan Ketua Dewan Syuro PKB saat ditemui
dikediamannya, Jumat kemarin (21/12).
Menanggapi kasus penyerangan terhadap rumah ibadah jemaah Ahmadiyah di
Kuningan dan Tasikmalaya, Gus Dur meminta Polri harus menyeret orang-orang
yang bertindak anarkis itu ke meja hijau.
“Fatwa MUI itulah yang memicu anarkisme orang-orang terhadap pengikut
Ahmadiyah. MUI juga punya andil (tindak anarkisme),” papar bekas Presiden
RI ke-4 ini geram.
Oleh karena itu, Gus Dur minta dengan tegas, agar kalimat “sesat” tidak
digunakan untuk menjustifikasi sebuah aliran atau kepercayaan umat
beragama. “Jangan pakai ‘sesat’, itu salah. Kalau orang Syiah menganggap
orang Indonesia adalah sesat, bagaimana?".
Dalam Islam diakuinya terdapat banyak aliran. Dicontohkan Gus Dur, di Arab
Saudi ada aliran Wahabisme yang mendukung ajaran Dinasti Saudi. Malah,
pemimpinnya dulu, Muhammad bin Abdul Wahhab tak kalah populer dengan Nabi
Muhammad SAW.
"Pengikut Al-Wahabiyah banyak sekali di sana (Arab Saudi). Dan tidak
apa-apa oleh pemerintah Arab Saudi. Undang-undang kita pun menjamin
kebebasan berpikir dan berpendapat, jadi boleh-boleh saja mereka,"
pungkasnya. iga
http://www.myrmnews .com/indexframe. php?url=situsber ita/index. php?pilih= lihat_edisi_ website&id= 49058
Senin, 24 Desember 2007
Hot Topics
Jumat, 21 Desember 2007
Hot News
Jumat, 07 Desember 2007
Anak Terlahir Dalam Keadaan Fitrah
Artinya : Setiap anak sebenarnya dilahirkan diatas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Majusi, atau Nasrani.
Berdasarkan ini, Abul ‘ala mengatakan melalui syairnya: Anak-anak kita akan tumbuh menurut apa yang dibiasakan oleh orang tuanya. Anak tidaklah menjadi tercela oleh akalnya namun orang-orang dekatnya yang membuatnya hina.
Jika rumah mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan anak, maka untuk mewujudkan tujuan diatas rumah harus diliputi oleh segala hal yang bisa menanamkan ruh keagamaan dan keutamaan terhadap jiwa anak”Risalah Anjaa’ (wasail).
Doa untuk Keturunan dan Keluarga
“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua sebagai orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan jadikanlah diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu” (Al Baqarah :127)
“Ya Rabbi, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (Ali Imran :38)
“Ingatlah ketika Ibrahim berkata: Ya Rabbi, jadikanlah negri (Mekah) ini sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala” (Ibrahim :35)
“Ya Rabbi, jadikanlah aku dan anak cucuku sebagai orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Rabb kami, terimalah doaku. Ya Rabb kami, berilah aku ampunan, dan juga kedua orang tuaku serta orang-orang beriman di hari terjadinya perhitungan (hisab)” (Ibrahim :40-41)
“Ya Rabb kami, anugerahkan kepada istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”
(Al Furqan :74)
“Ya Rabbi, berilah aku petunjuk untuk tetap mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan juga untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai. Masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih” (An Naml :19)
“Ya Rabbi, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku supaya aku dapat melakukan mal shaleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberikan kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al Ahqaf :15)