Rabu, 05 November 2008

Cak Nun dan Komunitas Ahmadiyah Berlin



(Cak Nun dan Komunitas Ahmadiyah Berlin)
http://www.padhangmbulan.com/ info/4-berita/ 121-ahmadiyah- berlin

Pada kesempatan itu Emha dan Novia menyempatkan bertemu dengan Jemaat Ahmadiyah, berikut ini adalah penuturan Emha yang disampaikan melalui email; Selama ini terdapat kesalahpahaman dan disinformasi serius tentang 'kasus' Ahmadiyah di Indonesia. Berita-berita yang sampai ke masyarakat Ahmadiyah di sejumlah Negara menyebutkan bahwa yang terjadi di Indonesia bukan hanya aktivitas Ahmadiyah dilarang, tapi juga para pimpinan atau Imam-Imam Jemaat Ahmadiyah di Indonesia, dibunuh. Demikian menurut Emha Ainun Nadjib, sesudah perjumpaannya dengan Imam Abdel Basith Thariq (Imam Ahmadiyah di Berlin, Jerman) 24 Oktober 2008 yang lalu.

Pertemuan itu berlangsung di Masjid Khadija, markas Jemaat Ahmadiyah Qodiyan di wilayah yang dulunya terletak di Berlin Timur sebelum reunifikasi dua Jerman beberapa tahun silam. "Kecanggihan teknologi informasi tidak banyak menolong berkurangnya kemungkinan distorsi dan deviasi atau bahkan pembalikan fakta-fakta tentang sesuatu hal, terutama yang menyangkut Islam", katanya.

Jemaat Ahmadiyah dan Kaum Muslimin di Jerman mengalami berbagai 'ujian'. Berdirinya Masjid Khadija mendapat tentangan keras dari pemerintah lokal dan masyarakat setempat yang dulunya adalah rakyat DDR atau Negara sosialisme Jerman Timur yang memang tidak punya pengalaman berinteraksi dengan Ummat Islam. Tidak sedikit di antara masyarakat lokal tersebut yang bukan hanya fobi atau bahkan anti-Islam, tapi juga belum bisa menerima pergaulan dengan "orang asing" dengan Agama apapun. Akan tetapi konstitusi Negara Jerman mensyahkan berdirinya Masjid itu dan secara konsekwen aparat kepolisian menjaga keamanannya.

Pertemuan Emha dengan Imam Ahmadiyah Berlin itu untuk 'memastikan' pandangan Ahmadiyah di kota besar Eropa tentang tiga hal. Pertama, apakah Mirza Ghulam Ahmad itu Nabi atau bukan. Kedua, hujjah atau argumentasi kenabiannya. Ketiga,posisi dan fungsi kitab "Tadzkiroh".

Sejauh ini yang dimengerti oleh banyak kalangan di Indonesia, alasan kenabian Mirza Ghulan Ahmad adalah menyangkut "khataman-nabiyyin" atau penutup para Nabi. Menurut tafsir Ahmadiyah, kata "khatam" bukan bermakna "penutup" melainkan "cincin". Muhammad SAW adalah "cincin"nya para Nabi, semacam mutiara indah para Nabi. Argumentasi kedua menyangkut Hadits Nabi Muhammad SAW tentang pelaku hijrah yang terakhir, di mana Ulama Ahmadiyah berbeda pendapat dengan Ulama lain tentang salah satu kata dari kalimat Hadits itu.

Emha mengatakan Imam Ahmadiyah di Berlin itu menyatakan dengan tegas bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi. Argumentasi utamanya adalah kalau sesudah Muhammad SAW tidak ada Nabi, maka Nabi Isa tidak akan bisa turun lagi ke bumi sebagai Al-Masih atau Messiah atau Ratu Adil.

Akan tetapi dinyatakan kenabian Mirza Ghulam Ahmad sama sekali tidak mengurangi kebesaran dan keagungan Nabi Muhammad SAW. "Justru Mirza Ghulam Ahmad diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan keagungan dan keindahan Rasulullah Muhammad SAW", kata Emha menirukan Abdel Basith Thariq (Imam Ahmadiyah di Berlin), "Muhammad adalah Maestro, Mirza Ghulam Ahmad hanya salah seorang murid beliau, pengagum beliau, pecinta beliau, sehingga kesungguhan cintanya membuat Allah memberinya wahyu dan mengangkatnya sebagai Nabi yang bertugas menyebarkan Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Kitab Tadzkiroh adalah wahyu Allah kepada Mirza Ghulam Ahmad yang dimaksudkan untuk menjunjung keindahan Al-Quran dan turut menyebarkan kebenaran dan keindahannya" .

Di bagian luar maupun dalam Masjid Khadija yang didirikan oleh Jemaat Ahmadiyah itu terdapat berbagai tanda dan tulisan-tulisan sebagaimana yang terdapat pada Masjid Ummat Islam pada umumnya: kaligrafi "Allah", "Muhammad", "Syahadatain" , nama-nama Khalifah Empat, Asmaul Husna, di bagian atap dalam Masjid tertulis ayat "Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub" (Niscaya dengan mengingat Allah-lah ketenangan hati didapatkan). "Semua yang saya kemukakan ini hanya report dan tidak ada opini saya sendiri", kata Emha.



Read More......

Selasa, 16 September 2008

Berita Nasional

Selasa, 16/09/2008 10:58 WIB

(Karena selama ini anggota Ahmadiyah naik hajinya ke Mekkah, FPI demo Kedubes Arab Saudi)

Demo Kedubes Arab Saudi, FPI Minta Ahmadiyah Tak Dihajikan

Novia Chandra Dewi - detikNews

Jakarta - Iring-iringan 15 motor dan 1 mobil pick up penuh stereo set rombongan Front Pembela Islam (FPI) tiba di Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi. Massa FPI meminta jemaat Ahmadiyah tak diizinkan beribadah haji.

Sebanyak 50 anggota FPI datang dari markasnya di Petamburan, Jakarta Barat ke Kedubes Arab Saudi, Jalan MT Haryono, Jakarta, Selasa (16/9/2008) pukul 10.00 WIB.

"Kita memprotes orang-orang Ahmadiyah untuk berangkat haji. Karena kuota kaum muslim diganti dengan kaum Ahmadiyah," ujar Ustad H Jafar Sidik dalam orasinya.

Mereka juga meminta pemerintah Indonesia dan Arab Saudi mencekal jemaat Ahmadiyah.

"Kami meminta mencekal anggota Ahmadiyah yang sudah mendaftarkan haji dan tidak memberikan visa buat mereka. Supaya mereka tidak menginjak kota Mekah dan Madinah," teriak Jafar yang langsung disambut teriakan takbir para anggotanya.

Tak hanya itu, mereka juga membagi-bagikan selebaran yang berisi tuntutannya. Dalam selebaran itu, mereka juga memprotes berangkatnya anggota Komisi VIII Theodorus JK, yang nonmuslim, memantau pelaksanaan haji di Arab Saudi pada tahun 2005.

Para anggota FPI yang berdiri di pagar Kedubes Arab Saudi dikawal 50 personel kepolisian dan petugas keamanan dalam dari Kedubes. Demo ini menutup 1 lajur dari 3 lajur ke arah Kuningan, sehingga lalu lintas tersendat.(nwk/ asy)
http://www.detiknew s.com/read/ 2008/09/16/ 105841/1006952/ 10/demo-kedubes- arab-saudi, -fpi-minta- ahmadiyah- tak-dihajikan



Read More......

Opini Islam

KONFERENSI DUNIA

Sambutan Raja Abdullah bin Abdulaziz

(Konferensi Dunia tentang Dialog)


Madrid – Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa, yang telah mewahyukan dalam
Kitab Suci-Nya: "Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan, dan Kami
jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling
mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang
paling bertakwa."


Damai dan rahmat atas Nabi Muhammad dan atas seluruh nabi dan rasul.

Yang Mulia, sahabatku, Juan Carlos, Raja Spanyol:

Sahabat-sahabat yang terhormat: Selamat datang, dan saya ucapkan
terima kasih kepada Anda yang telah menjawab undangan kami dan hadir
dalam dialog ini. Saya menghargai segala upaya yang anda lakukan
dalam melayani kemanusiaan. Saya haturkan penghargaan setinggi-
tingginya kepada sahabat-sahabat saya, Yang Mulia Raja Juan Carlos
dan Kerajaan Spanyol, serta rakyatnya yang penuh keramahan menyambut
berkumpulnya kita dalam konferensi ini di tanah air mereka, sebuah
wilayah yang memiliki warisan bersejarah dan peradaban di antara umat-
umat beragama, dan yang telah menjadi saksi koeksistensi antara
rakyat dari berbagai suku bangsa, agama, dan kebudayaan, dan yang
memberi sumbangan, bersama peradaban-peradaban lain, bagi kemajuan
umat manusia.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: saya datang kepada Anda dari tempat
yang dekat dengan hati semua Muslim, tanah tempat Dua Masjid Suci,
membawa sebuah pesan dari dunia Islam, yang mewakili para sarjana dan
pemikirnya yang belum lama ini bertemu dalam lingkup Baitullah. Pesan
ini menyatakan bahwa Islam merupakan sebuah agama yang tidak berlebih-
lebihan dan bertenggang rasa; sebuah pesan yang menyerukan bagi
dialog konstruktif di antara umat beragama; sebuah pesan yang
berjanji membuka sebuah halaman baru bagi umat manusia yang di
dalamnya – Insya Allah – musyawarah akan menggantikan konflik.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Kita semua percaya pada Tuhan yang
Maha Esa, yang mengirimkan para utusan-Nya demi kebaikan umat manusia
di dunia ini dan akhirat nanti. Sudah kehendak-Nya, Maha Besar Allah,
bahwa manusia harus berbeda dalam keyakinan. Jika Allah Yang Maha
Kuasa berkehendak, semua manusia akan memiliki agama yang sama. Kita
bertemu hari ini untuk menegaskan bahwa agama-agama yang dikehendaki
Allah Yang Maha Kuasa demi kebahagiaan umat seharusnya menjadi sarana
untuk memastikan terwujudnya kebahagiaan itu.

Karena itu wajib hukumnya bagi kita untuk menyatakan kepada dunia
bahwa perbedaan tidak harus menyebabkan konflik dan konfrontasi, dan
untuk menyatakan bahwa tragedi-tragedi yang telah terjadi dalam
sejarah manusia tidak ada hubungannya dengan agama, tetapi merupakan
akibat dari ekstremisme yang sebagian umat dari setiap agama ilahiah,
dan dari setiap ideologi politik, telah pernah mengalaminya.

Umat manusia dewasa ini sedang menderita akibat hilangnya nilai-nilai
dan kerancuan konseptual, dan sedang melalui sebuah tahapan kritis di
mana, terlepas dari segala kemajuan ilmu pengetahuan yang ada, kita
sedang menyaksikan berkembang biaknya kejahatan, meningkatnya
terorisme, terpecahnya keluarga, pemberontakan pikiran-pikiran kaum
muda akibat penyalahgunaan obat-obatan, pemerasan yang lemah oleh
yang kuat, dan kecenderungan- kecenderungan rasis penuh kebencian. Ini
semua merupakan akibat dari kekosongan spiritual yang diderita orang
karena mereka melupakan Tuhan, dan Tuhan menyebabkan mereka melupakan
diri mereka sendiri. Tidak ada penyelesaian bagi kita selain
menyepakati sebuah kesatuan pendekatan, melalui dialog di antara
agama dan peradaban.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Kebanyakan dialog di masa lalu
gagal karena mereka telah terpuruk menjadi tempat saling menuding
yang memusatkan perhatiannya pada perbedaan-perbedaan yang ada dan
melebih-lebihkannya ; dengan upaya-upaya mandul yang justru semakin
memperburuk dan bukannya meredakan ketegangan, atau karena mereka
mencoba untuk mencampurkan agama dan keyakinan dengan alasan untuk
mempererat persatuan mereka.

Ini adalah sebuah upaya yang sama-sama tidak akan membuahkan hasil
karena umat tiap-tiap agama memiliki iman yang teguh terhadap
keyakinan mereka masing-masing, dan tidak akan menerima pilihan lain
yang ditawarkan. Jika kita ingin pertemuan bersejarah ini berhasil,
kita harus memusatkan perhatian pada persamaan-persamaan yang
menyatukan kita, yaitu iman yang kuat kepada Tuhan, prinsip-prinsip
yang mulia, dan nilai-nilai moral yang tinggi, yang merupakan
intisari agama.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Manusia dapat menjadi penyebab
kehancuran planet ini dan semua yang ada di dalamnya. Tapi manusia
juga mampu mengubahnya menjadi sebuah oasis perdamaian dan ketenangan
tempat para umat berbagai agama, keyakinan, dan filosofi dapat hidup
berdampingan, dan orang dapat bekerja sama satu dengan yang lain
dalam sikap saling menghormati, dan mengatasi berbagai permasalahan
melalui dialog, bukan kekerasan.

Manusia juga mampu – dengan rahmat Allah – memusnahkan kebencian
dengan cinta, dan kemunafikan dengan toleransi, yang dengan demikian
memungkinkan semua umat manusia menikmati martabat yang telah
dianugerahkan Yang Maha Kuasa kepada mereka semua.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Marilah kita jadikan dialog kita
sebagai sebuah kemenangan keyakinan atas ketidakyakinan, kebajikan
atas kejahatan, keadilan atas ketidakadilan, perdamaian atas konflik
dan perang, dan persaudaraan manusia atas rasisme.

Karena itu, bersama Tuhan kita memulai, dan kepada-Nya kita memohon
pertolongan. Saya mengulurkan sambutan dan menghaturkan penghargaan
tulus saya kepada Anda semua.

Terima kasih dan damai bagi kita.

* Raja Abdullah bin Abdulaziz adalah Raja Kerajaan Arab Saudi.
Konferensi Dunia tentang Dialog berlangsung di Madrid pada 16-18 Juli
2008.

**Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground
(CGNews) dan dapat dibaca



Read More......

Opini Islam

Rasulullah SAW Teladan Praksis Kesederhanaan
Oleh : Hdh. Mirza Masroor Ahmad

Rasulullah SAW telah memberikan ajaran bahwa janganlah menganggap barang-barang materiil itu segalanya. Kesenangan dan barang-barang yang baik di dunia adalah untuk manfaat kita dan kita harus mengambil manfaatnya. Tetapi juga harus diingat bahwa semuanya untuk mencari ridha Allah. Jika ingin memperoleh ridha Allah maka harus menjalani hidup sederhana dan mendapatkan serta merasakan kepuasan hati yang merupakan jalan untuk meraih kesenangan dan ridha Allah Taala tersebut. Ini adalah cara untuk memperoleh kedekatan kepada Allah. Jadi jika kamu sedang sibuk dan bersemangat dalam mencari kesenangan duniawi serta melupakan tugas terhadap Allah, maka sedikit demi sedikit yang demikian itu akan menjadi sembahan dan dambaanmu.
Allah Taala berfirman Kami telah berikan kepadamu barang yang baik-baik dari dunia ini sehingga Kami dapat mengujinya. Barang-barang keperluan dari Tuhan adalah yang terbaik dan itulah yang akan berlangsung lama.

Jadi, Allah berfirman janganlah kalian menganggap bahwa semua keperluan barang duniawi dan barang-barang materil itu di atas segalanya dan janganlah melihat barang tersebut sebagai godaan yang sedemikian bahwa hal itu adalah anugerah yang besar. Adalah memang benar bahwa barang-barang itu merupakan sebuah anugerah dan Allah telah menciptakan barang-barang materil ini, tetapi keridhaan Tuhan itulah yang harus diutamakan di dalam pikiran kalian. Kalau tidak begitu, maka anugerah tersebut akan membawamu menjauh dari Tuhan. Kemudian barang-barang ini tidak lagi menjadi anugerah namun menjadi satu kutukan. Oleh karena itu dikatakan bahwa kalian harus berusaha dan mencari untuk perbekalan dari Allah. Untuk menerangkannya apa yang dinamakan perbekalan dari Tuhan itu? Yaitu untuk membungkukkan diri di hadapan-Nya, untuk bersujud di depan-Nya dan menyerahkan diri kepada-Nya serta mengikuti ketakwaan. Standar yang tinggi inilah yang telah ditunjukkan dalam praktek YM. Rasulullah SAW dan yang telah beliau nasihatkan agar kita mengerjakannya.

Allah telah mengangkat Rasulullah SAW sebagai nabi pembawa syariat terakhir. Melalui beliaulah semua syariat kenabian itu tertutup. Tetapi dengan anugerah yang besar ini, YM. Rasulullah SAW tidak memperlihatkan sesuatu kekuasaannya. Dan dalam kehidupan beliau itu kami tidak melihat dipertunjukkannya mahkota dan kekuasaan. Tetapi beliau menciptakan kesederhanaan dan rasa kepuasan hati di dalam kehidupannya. Karena beliau benar-benar mengerti akan perintah-perintah dari Allah dan hukum syariat yang diturunkan kepada beliau. Dengan bekerja sesuai perintah tersebut, beliau saw menegakkan standard yang tinggi dalam hal kepuasan beliau di mana para pengikut beliau harus berusaha untuk mengikutinya. Sesuai perintah Allah beliau menerangkan kepada para pengikutnya tentang ajaran mana yang harus diikuti oleh mereka.
Kitab Suci Al-quran menyebutkannya di dalam Surah Al-Ankabut (29:55):

yang artinya:
Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan sendau gurau dan permainan. Dan sesungguhnya rumah di akhirat itulah kehidupan yang hakiki, seandainya mereka mengetahui.

Bahwa kehidupan di dunia ini adalah sebuah senda gurau dan permainan, tak ada lainnya di samping itu, kenyataannya, kehidupan sesungguhnya adalah kehidupan di akhirat itulah, jika mereka mengetahuinya. Jadi nabi harus memberitahukannya kepada orang lain juga tentang ajaran yang sudah diwahykan ini. Beritahukan kepada pengikut-mu bahwa dunia ini tidak lain hanyalah sport dan permainan, dan kalian harus memikirkan kehidupan akhirat nanti. Kalian harus menggunakan barang materiil ini, tetapi jangan menjadikan barang materiil ini sebagai tujuan hidup kalian.
Hidup sederhana, perasaan puas dan mengingat Allah itulah yang akan bermanfaat dan akan memperoleh berkat-berkat Allah. Bukannya melibatkan diri dalam senda gurau dan permainan ini serta menuruti kehidupan kesenangan duniawi, adalah baik jika dapat bekerja berdasarkan perintah dari Allah dan menjalani hidup sesuai dengan ajaran-Nya. Jadi, inilah ajaran yang diberikan oleh YM. Rasulullah SAW kepada kita. Orang yang memberikan ajaran ini kepada kita, yang standard ketakwaannya sangat istimewa dan beliau SAW adalah nabi pembawa syariat Tuhan yang terakhir, yang Anda dapat lihat betapa bagus contoh karakternya ini. Dalam berbagai aspek dari kehidupan beliau SAW, maka hal ini selalu menjadi perhatiannya. Di rumahnya, beliau tinggal dengan amat sederhana sekali, sedemikian rupa sehingga andak-anak di dalam rumah pun menjadi amat terkesan, Dua dari cucu beliau tercinta tidak pernah memiliki perasaan bahwa mereka itu adalah cucu dari seseorang yang bahkan para pengikutnya tidak akan membiarkan air bekas mengambil wudhunya jatuh terbuang sia-sia, sehingga kita harus hidup seperti princes anak-anak raja. YM. Rasulullah SAW dengan cara prakteknya menanamkan kepada anak-anak yang ada di dalam rumah beliau selalu hidup dalam kesederhanaan dan kemiskinan, dan inilah yang memberikan kepada saudara kebesaran.
Dikatakan bahwa Hussein bin Ali r.a. berkata bahwa ada orang-orang yang jika menunjukkan kecintaannya mereka biasa mengutarakan cintanya kepada kami, tetapi hanya kecintaan islami, karena Utusan dari Allah ini biasa bersabda janganlah meninggikan saya lebih dari apa yang menjadi hak saya, karena Allah telah menciptakan saya terlebih dahulu dan baru kemudian Allah mengangkat kami sebagai Rasul. Inilah training yang dengan praktek yang diberikan kepada sanak saudaranya di rumah serta menjelaskan kepada mereka dan memperlihatkan dalam praktek sehari-harinya bahwa saya adalah seorang hamba Tuhan yang rendah. Dengan tingginya standard dari ibadah, Allah telah memberikan kepadaku kedudukan kedekatan kepada-Nya. Kita juga harus terus mengikuti kehidupan yang bersahaja ini, kerendahan hati dan kemiskinan. Kemudian Allah juga akan memperlihatkan kepadamu jalan untuk ke kedekatan pada-Nya. Satu kali beliau saw bersabda bahwa saya adalah seorang pemimpin umat manusia, tetapi saya tidak ada kebanggaan dari itu.

Hadhrat Hussein r.a. telah menyebutkan satu hal dari tradisi bahwa Hadhrat Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa beliau mendengar Hadhrat Omar menyampaikan hadits ini di atas mimbar bahwa saya mendengar YM. Rasulullah SAW bersabda bahwa jangan memberikan pujian kepada saya secara berlebih-lebihan, seperti halnya orang-orang Kristiani lakukan untuk Ibnu Maryam, saya hanyalah seorang hamba Allah wa qulu Abdullahi wa Rasulihi maka katakanlah kepada saya bahwa saya itu adalah hamba Tuhan dan Rasul-Nya. Dengan kerendahannya ini dan kehidupannya yang bersahaja ini maka akibatnya ialah jika ada orang asing atau pendatang baru di mana beliau duduk bersama-sama maka mereka tidak mengetahui yang mana Rasulullah SAW itu, karena beliau biasa membuat pertemuan itu sederhana dan informal, sehingga pendatang baru ini tidak dapat mengenalinya. Dikatakan bahwa dalam pertemuan yang sedemikian itu, ketika YM. Rasulullah SAW setelahnya hijrah sampai Medinah, ditengah hari dengan sinar matahari yang panas. YM. Rasulullah SAW duduk dibawah bayangan sebuah pohon dan orang-orang dalam jumlah yang banyak datang menjumpai beliau. Hadhrat Abubakar juga ada bersama beliau SAW yang umurnya sepantar. Orang-orang Medinah mengatkan bahwa mereka tidak pernah melihat YM. Rasulullah SAW sebelumnya. Karena Hadhrat Abubakar duduk dekat beliau, maka mereka tidak dapat membedaknnya, beliau adalah begitu bersahaja dan merendah sehingga orang-orang mengira bahwa Abubakar itulah yang Rasulullah SAW. Ketika Abubakar menyadarinya maka beliau berdiri dan menaungi YM. Rasulullah SAW yang dengan itu mereka dapat menyadari yang mana YM. Rasulullah SAW itu.
Ada lagi riwayat dari Sharif bin Abdullah yang menyampaikan bahwa saya mendengar Anas bin Malik menyatakan bahwa satu kali kami duduk bersama YM. Rasulullah SAW di dalam mesjid. Seseorang yang menunggang unta datang, ia mengikatkan untanya ke mesjid dan berkata siapakah yang Muhammad di antara kalian? YM. Rasulullah SAW sedang duduk bersandarkan bantal, kita katakan bahwa orang yang berkulit cerah dan duduk bersandarkan bantal adalah ia itu. Ia berkata lagi apakah Anda anak dari Abdul Mutalib? YM. Rasulullah SAW menjawab ya. Ia berkata selanjutnya bahwa saya akan bertanya kepada Anda dengan pertanyaan-pertanyaan yang keras, apakah Anda tidak akan merasa tersinggung? YM. Rasulullah SAW berkata Anda boleh menanyakan apa saja yang kamu suka. Orang asing ini berkata bahwa saya sudah menyebutkan hidup yang sederhana, tetapi biarlah saya menyampaikannya kepada Anda. Ia bertanya, dengan bersumpah kepada Allah, saya bertanya apakah Allah telah mengutus Anda kepada orang-orang? Rasulullah SAW bersabda: ya. Kemudian ia berkata saya bertanya kepada Anda dengan sumpah apakah Anda itu shalat dalam hari-hari dan juga berpuasa? Rasulullah SAW berkata: ya. Kemudian ia berkata di atas sumpah saya bertanya kepada Anda bahwa barang siapa yang kaya Anda harus mengambil zakat dari mereka dan membagikannya di antara orang yang miskin? YM. Rasulullah SAW bersabda: ya. Ia berkata, ajaran apa pun yang Anda bawa saya mempercayainya dan saya adalah wakil dari Bangsa bin Bakar, saya adalah saudaranya dan saya mewakili beliau; saya mempercayai Anda.
Jadi masyarakat yang bersahaja dan informal itulah YM Rasulullah saw bersama para sahabat beliau SAW. YM. Rasulullah SAW menunjukkan dengan perbuatan dan memberikan contoh untuk kita semua, yaitu untuk memperbaiki standar hidup kita dan bukan hanya untuk didengarkan sebagai cerita dongengan saja.






Read More......

Opini Islam

Menyemai Islam yang Indonesiawi

OLEH: ZUHAIRI MISRAWI

Intelektual Muda NU, Alumnus Universitas al-Azhar Kairo- Mesir; Koordinator Jaringan Islam Emansipatoris; dan Pimred Jurnal PERSPEKTIF PROGRESIF.
FASILITAS

Ledakan bom di Kramat Jati, Jakarta Timur, beberapa hari lalu menyisakan kegelisahan. Kendatipun bom yang diledakkan M Nuh masuk dalam kategori kecil, peristiwa tersebut tetap merupakan pesan dan simbol anti-Amerika.
Pertanyaannya, apakah sikap ekstrem dengan merakit dan meledakkan bom di tempat-tempat umum, yang memakan korban sebagian besar adalah umat seagama dan sebangsa, dapat dibenarkan?

Tentu saja, secara otomatis kita semua akan memberikan jawaban bahwa tidak sepatutnya seorang yang memahami ajaran agama dengan baik dan benar melakukan tindakan teror dan aksi kekerasan lainnya.
Masalah utama yang perlu mendapat perhatian dari pelbagai pihak adalah fenomena menguatnya ekstremisme. Khaled Abou el-Fadl dalam The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists menuturkan bahwa gerakan ekstremis yang berbasis agama makin menguat. Kendatipun jumlah mereka relatif sedikit, tetapi mereka mempunyai pengaruh yang cukup besar.
Moderatisme vs ekstremisme
Secara sosiologis, sikap ekstrem yang dilakukan oleh sebagian kelompok tidak semata-mata merupakan dorongan agama, melainkan mempunyai akar-akar sosiologis. Yang paling kentara adalah faktor modernitas yang melahirkan pseudoliberalisasi, yaitu liberalisasi yang makin menyengsarakan rakyat. Ada agenda tersembunyi di balik liberalisasi yang tidak sejalan dengan visi dan misi agama untuk pembebasan dan keberpihakan terhadap mereka yang miskin. Karena itu, menurut Khaled, sikap ekstremis merupakan sebuah sikap perlawanan terhadap modernitas.
Di samping itu, munculnya ekstremisme berkaitan dengan arus besar indoktrinisasi faham keagamaan yang bernuansa kekerasan, seperti faham bunuh diri dan terorisme. Di era teknologi ini, pengaruh-pengaruh luar amat mudah diakses oleh publik di Tanah Air. Akibatnya, faham keagamaan yang bernuansa kekerasan makin mudah memengaruhi mereka yang tidak mempunyai faham keagamaan yang mendalam.
Di sini dalam konteks keindonesiaan diperlukan pemikiran besar, terutama dalam rangka merancang-bangun keberagamaan moderat yang bersumber dari teks-teks keagamaan yang mampu menyesuaikan diri dengan konteks dan lokalitas. Faham keagamaan yang mempunyai orientasi pada kemanusiaan dan moralitas.
Muhammad Thahir bin ’Asyur dalam Maqâshid al-Syarî'ah menyatakan bahwa upaya mewujudkan kehidupan yang adil dan damai merupakan tujuan utama dari agama, terutama Islam.
Dalam hal ini, praktik keagamaan kalangan Muslim Indonesia sesungguhnya mempunyai keistimewaan tersendiri dalam rangka membangun keberagamaan yang moderat, serta menolak ekstremisme. Adanya kontrak politik di antara umat Muslim dengan umat-umat agama lain dalam Pancasila dan UUD 1945 menunjukkan salah satu bukti kuatnya sikap moderat, terutama dalam rangka membangun kebersamaan di tengah kebhinnekaan. Di sinilah masyarakat Muslim Indonesia mempunyai kekhasan tersendiri, terutama bila dibandingkan dengan masyarakat Muslim di negara lainnya.
Karenanya, sikap moderat mempunyai tujuan yang amat mulia untuk membangun toleransi dan kebersamaan. Tentu saja, yang masih harus diperjuangkan secara terus-menerus adalah memperkecil volume kebencian dan kekerasan antara sesama anak bangsa.
Indonesiawi
Dalam konteks kebangsaan, kita semua mempunyai tanggung jawab yang amat berat agar capaian-capaian yang telah diraih oleh para pendiri bangsa ini dapat terus dipelihara. Di sinilah arti penting prinsip, menjaga masa lalu yang sudah baik, dan mengambil hal-hal masa kini yang lebih baik. Khazanah masa lalu berupa keislaman yang indonesiawi sebagaimana diwariskan para pendahulu kita harus dijadikan sebagai modal untuk mempererat kebangsaan dan menjunjung tinggi kemanusiaan.
Dalam kurun waktu yang cukup panjang, bangsa ini bisa hidup damai dalam kebhinnekaan. Karena itu, jalan untuk menyemai hidup damai dalam pluralitas tersebut adalah mengembangkan faham keagamaan yang bernuansa moderatisme dan mengubur faham keagamaan yang bernuansa ekstremisme. Apalagi sebagian besar, kalangan Muslim Indonesia, adalah moderat, maka modal ke arah itu sangat besar. www.kompas.com
http://www.islamemansipatoris.com/artikel.php?id=558



Read More......

Opini Islam

Menggagas Dakwah Progresif

Oleh: Muhtadin AR

Peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Jakarta 

Kasus Yusnari Yosra, seorang khotib Jum’at di masjid DPRD DKI Jakarta, dalam khutbahnya sebulan lalu (25/8) menghina Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), dan kemudian oleh jamaah jum’at dipaksa untuk menghentikan khutbahnya, adalah satu di antara ribuan kasus yang akhir-akhir ini sering kita jumpai dalam khutbah jum’at, maupun ceramah-ceramah agama.
Di banyak masjid, baik di wilayah Jakarta dan sekitarnya, maupun dibeberapa kota besar di Indonesia, seringkali kita jumpai khutbah yang isinya hanya menghujat, menyalahkan, menjelek-jelekkan, bahkan menghakimi orang atau kelompok lain sebagai orang dan kelompok yang sesat, murtad, dilaknat, dan segenap cap buruk lainnya.
Keadaan demikian, tentu sangat memprihatinkan. Pertama, mimbar khutbah yang sesungguhnya adalah tempat untuk menyampaikan pesan takwa dan keluhuran ajaran agama, telah berubah fungsi menjadi tempat untuk menggunjing, bahkan memfitnah orang atau kelompok yang berbeda.

Kedua, sebagai sesama muslim kita telah kehilangan etika dan tata krama. Bayangkan, jika di majelis jum’at yang disucikan dan semua orang sedang beribadah, bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah, sang khotib berani mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas, lalu bagaimana jika di tempat-tempat umum.? Padahal jelas disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa orang yang beriman hendaknya berbicara dengan baik, sopan dan santun. Dan kalau tidak bisa, lebih baik diam.
Ketiga, dengan isi khutbah semacam itu, secara tidak langsung berarti kita (para jamaah jum’at) telah diarahkan sang khotib untuk menolak keragaman dan menghargai setiap perbedaan. Padahal dalam al-Qur’an jelas disebutkan bahwa, Allah menciptakan isi bumi ini beragam, tidak satu. Ada laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku (lihat: QS. Al-Hujurat [49]:13).
Model khutbah semacam ini jika terus dikembangkan para khotib tentu tidak sehat. Bukan saja karena bisa menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam dari para jamaah atas informasi yang disampaikan, tetapi juga merusak citra Islam itu sendiri. Di satu sisi, kehadiran Islam yang sesungguhnya ingin menjadi fasilitator dalam pemecahan problem-problem kemanusiaan ‘liyukhrijahum min al dzulumati ila al nur’ (agama itu datang untuk membebaskan manusia dari kegelapan), tidak akan pernah sampai ke masyarakat karena memang tidak pernah disampaikan. Sang khotib lebih suka dengan pembahasan yang berisi tentang ‘orang lain’.
Misalnya, tentang pesan luhur agama akan pentingnya menyelamatkan, membela dan menghidupkan keadilan dalam bentuknya yang paling kongkrit di masyarakat. Pembahasan semacam ini nyaris tidak pernah kita dengar dalam khutbah jum’at. Padahal banyak sekali ayat al-Qur’an dan juga Hadits Nabi yang memerintahkan manusia untuk berbuat adil, menentang kedzaliman dan mengentaskan kemiskinan.
Kemudian juga tentang cara atau metode menyampaikan gagasan. Menurut hemat saya, metode yang dipakai para khotib belakangan ini sangat jauh dari akhlak Islam yang santun dan sangat menghargai keragaman. Dalam Al-Qur’an misalnya disebutkan, dakwah hendaknya disampaikan dengan perkataan-perkataan yang bijak serta pelajaran yang baik (lihat: QS. An-Nahl [16]: 125). Tetapi apa yang kita dapati di mimbar-mimbar jum’at, seringkali khotib itu menyampaikan khutbahnya dengan nada tinggi dan emosi yang meledak-ledak. Menjelek-jelekkan orang, dan menganggap yang lain, yang tidak seide sebagai musuh yang harus dijauhi dan diperangi.
Menghadapi kenyataan demikian, lalu apa yang mesti kita lakukan.? Setidaknya ada dua hal. Pertama, kita harus menyeru dan kembali pada fungsi dan tujuan dari disyariatkannya ibadah shalat jum’at itu sendiri. Dalam kitab Al Fiqh ‘Ala Madzahib al Arba’ah karya Abdurrahman Al Jazyri misalnya disebutkan, tujuan dari shalat jum’at adalah agar sesama umat muslim bisa saling bertemu dalam satu tempat, sehingga masing-masing jamaah bisa saling mengetahui kondisinya, yang kaya bisa berderma kepada yang miskin, yang besar bisa mengasihi kepada yang kecil, dan sadar bahwa semua adalah hamba Allah. (lihat: Juz I hlm. 331).
Dengan kembali kepada tujuan ini, kita berharap isi khutbah jum’at akan jauh lebih santun dan menyejukkan hati. Khutbah tidak lagi menggunjing orang lain, tetapi lebih fokus pada usaha menyampaikan pesan luhur agama, sehingga akhirnya bisa tercipta kasih sayang diantara sesama jamaah jum’at, sesama umat muslim yang berjum’atan di tempat lain, dan utamanya kepada seluruh umat manusia yang ada di muka bumi ini.
Kedua, meningkatkan tabayyun (klarifikasi) diantara sesama umat muslim. Saya percaya, bahwa semua yang dipercaya menjadi khotib jum’at adalah orang-orang terpilih. Mereka tidak saja tokoh dilingkungannya masing-masing, tetapi juga adalah orang-orang yang cakap pengetahuan agamanya, dan bisa menjadi suri tauladan. Dengan melakukan kajian mendalam dan tabayyun terlebih dahulu terhadap suatu masalah yang akan disampaikan kepada jamaah, niscaya jamaah juga akan mendapati informasi valid, yang sifatnya tidak menggunjing orang lain, terlebih memfitnah.
Dalam al-Qur’an misalnya disebutkan, “janganlah diantara kamu sekalian menggunjing sebagian yang lain” (lihat: QS. Al-Hujurat [49]: 12). Artinya, dengan isi khutbah yang ‘membicarakan’ orang lain, maka jika benar isi pembicaraan itu disebut sebagai perbuatan menggunjing, dan jika isinya tidak benar disebut sebagai fitnah. Baik menggunjing maupun memfitnah, keduanya sama-sama dilarang dalam agama.
Karenanyalah, kita perlu menggagas pentingnya sebuah konsep dakwah yang membebaskan dan mencerahkan masyarakat. Ini penting karena pesan luhur agama itu hanya bisa diterima dan dicerna masyarakat dengan baik jika sang juru dakwah mampu menerjemahkan pesan agama itu dengan baik pula. Tanpa adanya penerjemahan melalui penalaran akal budi yang baik, maka agama juga hanya akan dijalankan secara letterlijk, kaku, keras, menakutkan bagi yang lain, dan tidak mampu memberikan efek positif bagi pengikutnya, karena memang disampaikan seperti itu.
Dakwah semacam ini akan semakin menemukan relevansinya setidaknya karena dua hal. Pertama, dakwah yang selama ini ada, banyak dilakukan secara agresif, bahkan sangat agresif. Padahal Allah sendiri telah memperingatkan Nabi Muhammad saw. agar tidak melakukan dakwah model ini. Disebutkan: Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan (QS. Hud [11]:12); Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang buta agama (ummi): ‘Maukah kalian masuk Islam’. Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan. (QS. Al-Imron [3]:20).
Kedua, model dakwah sekarang ini menurut saya terlalu keras dan tidak menukik pada substansi ajaran agama, wajah Islam sebagai penyelamat, pembela dan penghidup keadilan itu, seringkali justru berbenturan dengan kenyataan empirik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kehadiran Islam bukannya memecahkan berbagai problem, tetapi justru menjadi problem itu sendiri.
Dalam banyak kesempatan, agama bahkan hanya didakwahkan dan kemudian dipahami dalam bentuknya yang paling luar, sebagai ritual rutin yang jangkauannya hanya terbatas pada wilayah-wilayah privat dan spiritual belaka. Padahal, praktek keagamaan seperti inilah yang sesungguhnya telah menyebabkan Islam dalam berabad-abad lamanya kehilangan spirit religiusnya yang murni, yakni spirit keadilan yang menghubungkan antara keluhuran ajaran dengan kemuliaan praktik-praktik kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Hilangnya spirit keadilan ini pulalah yang menyebabkan umat Islam seringkali kesulitan menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh), karena yang sering terjadi justru praktik-praktik kehidupan beragama yang parsial dan terkotak-kotak. Dan inilah pentingnya kita menggagas dakwah yang progresif. Dakwah yang tidak hanya membicarakan perbuatan orang lain, tetapi dakwah yang mampu memberi spirit umat muslim untuk menjadi muslim yang unggul, berkualitas dan kaffah. Wallahu a’lam. []
http://www.islamemansipatoris.com/artikel.php?id=545




Read More......

Opini Islam

Koran Tempo, Selasa, 22 April 2008

Mohon Maaf, Ahmadiyah

Masykurudin Hafidz
Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami memasukkan keyakinan dan keberadaan Anda sebagai persoalan besar yang mengancam negeri ini. Daripada kemiskinan, kelaparan, kenaikan harga bahan pokok, serta biaya pendidikan yang makin mahal, kami lebih suka memilih Anda sebagai sasaran pekerjaan. Keseriusan kami semata-mata karena ini menyangkut keyakinan; sesuatu yang sangat prinsipil bagi setiap umat manusia.

Bertahun-tahun kami dikondisikan untuk selalu curiga terhadap lain keyakinan. Ibarat musuh dalam selimut, ia lebih berbahaya karena bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Kami tidak terbiasa untuk terbuka dan mempelajari dengan serius sistem keyakinan lain tanpa harus takut terpengaruh karenanya. Sebagai mayoritas, justru yang kami lakukan adalah membuat Anda merasa tidak aman, tidak nyaman dan tidak bebas menjalankan ibadah serta kegiatan sehari-hari.

Memangnya kenapa kalau kebebasan Anda untuk beribadah kami ambil alih? Kami ini sangat sensitif terhadap agama di luar agama resmi sehingga selalu berusaha untuk melarang dan menutup tempat ibadah Anda. Kami merasa berhak untuk menentukan status keyakinan Anda. Apa yang kami hakimi sebagai sesat, itu berarti kami boleh menghilangkan hak sebagai warga dalam mendapatkan perlindungan di negeri ini.

Kami menutup mata terhadap sumbangan Anda kepada kemanusiaan (humanity first). Jaringan yang sangat luas tersebar di belahan bumi membuat Anda mampu menyalurkan bantuan terhadap kemiskinan, pendidikan, dan korban bencana. Di Indonesia, jumlah anggota organisasi Anda yang hanya lima ratus ribu sanggup mengumpulkan puluhan miliar setiap tahun. Anda juga punya televisi yang berpusat di Inggris sehingga dunia dapat melihat bahwa Indonesia adalah negeri yang damai, terbuka dan kondusif untuk investasi.

Tetapi inilah kami. Kesepakatan kita bahwa di negara ini tidak ada yang boleh didiskriminasi tiba-tiba kami ingkari. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan tidak lagi kami jadikan sabuk pengaman bagi integrasi bangsa. Negara sebagai penjamin atas hak-hak bagi setiap warga, termasuk Anda, lalai dan sengaja membiarkan saat Anda menjadi sasaran kesewenang-wenangan .

Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami tidak bisa menerima perbedaan. Kami tidak menganut pluralisme karena paham itu datang dari luar. Kami punya keyakinan sendiri yang sesuai dengan ajaran kami. Kami bisa melakukan larangan dan melakukan tindakan kekerasan jika tidak sesuai dengan keyakinan kami. Tuhan pasti berada di pihak kami karena kami yang paling benar. Kami adalah khalifah Tuhan yang diperintah untuk meluruskan keyakinan Anda.

Tidak bisa kami menghentikan perhatian terhadap masalah perbedaan keyakinan karena hal itu menjadi faktor yang membuat bangsa ini dalam bahaya. Kami lupa bahwa negeri ini adalah salah satu negeri paling plural di dunia sehingga kesatuan akan tumbuh jika masing-masing keyakinan dihormati. Persatuan Indonesia yang menuntut bahwa setiap orang berhak beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya, entah itu sesuai atau tidak dengan keyakinan yang lain, tiba-tiba kami singkirkan.

Itulah kenapa kami menyerang masjid-masjid tempat Anda beribadah. Padahal ajaran kami mengatakan, kami tidak boleh menyakiti orang lain tanpa alasan apa pun. Tidak boleh menyerang orang lain kecuali sekadar mempertahankan diri. Bahkan ketika orang lain menyerang kami tiba-tiba meminta perlindungan, wajib hukumnya bagi kami untuk melindunginya.

Perlindungan terhadap orang lain tanpa memandang keyakinan sering kali kami temui dalam ajaran kami. Kami masih ingat saat Rasulullah Muhammad menerima para tamu yang datang dari kelompok yang berkeyakinan lain di masjid Madinah. Saat rombongan tersebut meminta izin keluar untuk melakukan kebaktian justru Rasulullah mempersilakan untuk beribadah di Masjid Nabawi. Masjid justru digunakan untuk menerima dan membangun toleransi antaragama.

Bahkan dengan sangat tegas Rasulullah menjamin jiwa, harta, dan agama para penganut keyakinan di luar keyakinannya. Ia mendeklarasikan Piagam Madinah sebagai undang-undang bersama untuk hidup berdampingan secara damai dan toleran. Kami tahu, di dalam piagam tersebut dijelaskan bahwa masyarakat yang hidup di Madinah saat itu, yaitu Islam, Yahudi, dan Kristen, disebut sebagai satu umat (ummatan wahidah). Isi piagam tersebut juga memuat untuk mengemban tanggung jawab yang sama dalam menghadapi tantangan dari luar. Tidak boleh ada diskriminasi, siapa pun yang berada di Madinah harus dilindungi serta tidak boleh ada yang terluka, apa pun keyakinannya, bagaimanapun latar belakangnya.

Di negeri tercinta ini, kami juga mengerti bahwa Undang-Undang Dasar 1945 kita menegaskan bahwa jaminan konstitusional tentang hak untuk hidup, untuk tidak disiksa, untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, untuk beragama, untuk tidak diperbudak, dan untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.

Demikian pula, kami tahu bahwa bangsa ini telah menjadi bagian dari masyarakat internasional yang meratifikasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia lewat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999. Bahkan bangsa ini juga sudah mengesahkan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik melalui UU Nomor 12 Tahun 2005. Kedua ketentuan tersebut menegaskan jaminan negara atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Namun, ajaran dan teladan Rasulullah begitu jauh dari kami. Tidak perlu ada kesesuaian ajaran dan undang-undang dengan tindakan sehari-hari. Juga kesepakatan kita dalam menjalankan roda kehidupan bangsa ini tiba-tiba seperti angin lalu. Tugas kami sebagai pengayom seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi kami abaikan. Kami diam saja, bahkan ikut menyuburkan praktek diskriminasi dan penafian atas hak-hak kebebasan berkeyakinan. Padahal, itu hak paling asasi yang dianugerahkan Tuhan. Semangat kebangsaan kami memang sedang defisit. Kami gampang terpengaruh oleh isu-isu murahan dan sentimental.

Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami tidak mampu melindungi Anda. Kami tidak bisa menjamin jika suatu saat rumah atau masjid Anda akan diserang. Sekali lagi, mohon maaf.


Read More......

Humanity First-Serving Mankind